Sebenarnya iklan ini kurang pantas dilihat, karena menampilkan anak di bawah umur (Gun-red) sebagai model. Tapi tidak apa, karena iklan ini sendiri menceritakan soal impian seorang pria. Impian yang dibentuk sejak dini, begitu kira-kira.
Bermimpi adalah jalan pertama yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mencapai sesuatu. Tanpa pernah bermimpi akan sesuatu rasanya mustahil untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bu Eleanor Roosevelt bilang sih, ” The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams” . Masa depan itu cuma milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka.
Naaaaah, gara-gara habis minum MOBEKEN, si Gun langsung bermimpi :
Bagus-bagus sih, mimpinya. Spektakuler bahkan. Dengan pencapaian ideal semacam itu rasanya bolehlah dia menambahkan di tahun ke-43 : Mati dan masuk surga.
Jamannya pilkada, jamannya pamer tampang di area publik. Wajah yang dipasangpun penuh senyum. Seolah semua adalah pembela-pembela rakyat. Janji muluk pun dibuat untuk membuai masyarakat.

Bang Herman, bersamo kito biso.
Iyo bang, biso apo?
Bang Herman datang, rakyat senang! Redaksi sempat menghubungi tim sukses yang mengusung Bang Herman, tapi belum dapat dipastikan dalam pilkada daerah mana Bang Herman akan beraksi.
Memang sulit ditebak, apalagi di iklim demokrasi ala Indonesia belakangan ini.
Seseorang yang tidak tahu masalah riil masyarakat, datang tampil sebagai calon kepala daerah karena cuma merasa dirinya mampu atau tenar. Intinya, siapa bisa memikat, dia akan melenggang menuju kursi kekuasaan.
Bang Herman, dengan senyumnya yang memikat pasti bisa membuat para wanita datang mendekat. Libaslah calon kepala daerah yang beraninya cuma main suap, bang!
Subjektifitas individu dalam penentuan soal selera tidak terbentuk langsung secara tiba-tiba, serba instan. Semuanya telah melalui serangkaian proses dimanik yang didasari oleh sebuah pengalaman yang kemudian menciptakan semacam perpustakaan atau galeri. Proses demikian ini yang kemudian disebut dengan referensi visual.
Seorang pelukis handal akan menghasilkan sebuah lukisan menakjubkan akibat dari sebuah eksplorasi pikirannya dalam galeri-galeri maya di dalam ruang pikir sang pelukis. Bagaimana galeri tersebut dibentuk, tentunya proses itu demikian uniknya dan spesifik atas masing-masing individu.
Seorang fotografer akan menciptakan foto menakjubkan akibat dari sebuah perjalanan panjang menelusuri berbagai ruang waktu menemukan komposisi, tata ruang, dan segala macam hal yang mendukung terciptanya sebuah kesatuan foto yang unik.
Proses menciptakan kondom pun bisa jadi demikian. Memiliki serangkaian pengalaman yang sifatnya nyata atau hasil olah pikir imajinasi akan membentuk sebuah sekat-sekat atas sebuah definisi tentang kondom. Kondom yang tidak biasa, an extraordinary condom akan menjadi pilihan di era jenuhnya bentuk kondom yang begitu-begitu saja. Keinginan untuk lepas dari kondisi stagnan bentuk kondom ini, yang kemudian mendorong para pemikir untuk menciptakan aneka variasi bentuk kondom yang didasari hasil pengejawantahan berbagai referensi visual.

Sumber bahan : http://www.funtobehere.com/
Mari kita kupas satu persatu bentuk kondom KONAX buatan Peteer ini.
Granat sering memberikan kejutan kepada sang terserang dengan sebuah ledakan yang sifatnya tiba-tiba. Kondom berbentuk demikian pastinya selain tekstur cukup variatif dalam gerigi-gerigi tak ratanya, yang utama justru soal kejutan ledak yang bakal timbul ketika picu ditarik dan menyentuh sebuah permukaan.
Viking yang kuat, liar dan gemar merampok/merampas terwujud dalam sebuah kondom. Bisa jadi dengan bentuk yang demikian ini seolah ingin menunjukkan kejayaan dan keperkasaan bangsa Viking sebagai topeng. Dengan kumis tercukur rapi dan melintang horizontal serta melengkung di kedua ujungnya akan menambah kesangaran dari ‘isi di dalam cover’.
Kondom berlapis uang? Jaman sekarang apa sih yang gratis? Semua serba duit..duit dan duit. Duit berlaku sebagai mata kunci pelicin atas semua hambatan. Ijin untuk wirausaha? perlu duit. Bikin KTP? perlu duit. Bahkan untuk urusan demikian perlu juga lapisan duit yang akan memperlancar ‘urusan’ anda.
Masker untuk menghalau penularan berbagai virus mematikan dalam operasi rahasia bisa dijadikan referensi untuk sebuah kondom. Dengan demikian harapannya akan menjadi pelindung utama yang benar-benar anti bocor. Mengingat posisi ujung tombak yang rentan terhadap berbagai serangan mendadak dari musuh, maka masker ini diharapkan akan menjadi penolong di saat-saat genting.
Gambar terakhir adalah gambar pengemudi pesawat jet, dengan adopsi bentuk yang demikian ini akan memberikan kesan dahstyat terhadap ’si kecil’. Sang lawan pasti akan terkecoh dengan membayangkan kemampuan terbang di atas ketinggian 10.000 hingga 15.000 meter. Dan biasanya akan diperdahsyat dengan bayangan tentang kelengkapan rudal berpenuntun infra merah pencari panas, rudal dan bom berpandu laser yang akan datang menyergap. Wow! A Big Wow!
Berdasarkan referensi visual yang anda miliki, jika diberi kesempatan merancang, bagaimana bentuk sebuah kondom yang oke?
Pernah dengar soal Sutarjo yang berubah panggilan menjadi TJ? Kalau belum, ini adalah nama guru Fisika saya waktu SMA. Beliau tinggal di kompleks Yadara Babarsari. Meski mengajar di sekolah kampung, bukan karena beliau tak bangga bernama Sutarjo, tapi ini soal penyesuaian dengan audiens. Buktinya, dengan nama ini beliau sangat dekat dengan anak-anak badung (teman-teman saya) maupun alim (seperti saya).
Soal penyesuaian nama panggilan ini bukan soal krisis kepercayaan diri yang akut. Ini mirip soal strategi branding ketika kita bicara ilmu marketing.
Minggu ini, di sebuah klub berkarpet bludru akan ada show performance dari seorang DJ yang selangkangan belakangan sedang naik daun. DJ Zammy dan DJ Ronni. Belia yang dikenal suka mengaduk campuran musik reggae berpadu dengan trance, lalu dibumbui sedikit keroncong ini akan naik pangung menghibur kota Jogjakarta.

Acara ini awalnya bertajuk “Bali Ndeso”. Namun karena pertentangan di kalangan manajemen artis dan pengelola klub, maka nama acaranya urung demikian. Lalu “Ndoyok Night” lah yang menggantikan karena dinilai jauh lebih menggigit.
lalu, sebenarnya tahukah anda bagaimana sejarah nama acara “Bali Ndeso” itu?
DJ Zammy dan DJ Ronni adalah nama seorang putra Jogja yang meninggalkan kampung halamannya 5 tahun silam. Namanya Zamroni, seorang bloger kondang. Awalnya dengan modal pengalaman sebagai model header sebuah layanan blogging dan model acara pameran komputer, dia memberanikan diri menantang jakarta! Dengan berangkat menggunakan kereta api Senja Utama, dia dilepas oleh teman-temannya di Stasiun Tugu. Kala itu dunia blog gempar gulita akibat kepergiannya ke Jakarta. Tak kurang dari 15 bloger memposting soal kepergian Zamroni.
Lima tahun kemudian, Zamroni menggebrak kota kelahirannya. Dengan menamai diri sebagai DJ Zammy dan DJ Ronni dia datang mengunjungi kota Gudeg.
Lalu kenapa nama Zamroni berubah menjadi Zammy dan Ronni? Apakah Jancukarta sudah merubah sosok ramah dan baik hati ini menjadi makhluk beridentitas ganda dan penuh tipu daya?
Tidak sodara-sodara. Bukan berarti nama Zamroni tak bagus didengar, tapi nama Zammy dan Ronni lebih menjual dalam bidang per-DJ-an. Ini ‘kan lagi ngomongin Zamroni yang sedang meniti karir di bidang entertainment, tentu saja harus menyesuaikan dengan pangsa pasar. Manajemen Zammy dan Ronni benar-benar tau bagaimana mengelola artisnya dengan baik sehingga menyerap pasar bagaikan magnet.
Lain perkara jika Zamroni hendak mengais dollar di bisnis dakwah sebagai ustadz atau ulama di televisi. Mungkin di belakang nama Muhammad Zamroni akan ditambahkan kata berawalam Al-danseterusnyasampaipanjangsekali.
Oke, kalau anda mengaku penasaran dengan putra Jogja satu ini jangan sampai anda melewatkan show performance dari DJ Zammy dan DJ Ronni di Bego’s Cafe!
**ngiiiiiing, ini berita harusnya dipublish 5 tahun lagi..plak!**
Persoalan daya tahan, konon kabarnya adalah persoalan serius. Hal demikian pastinya bukan persoalan individu, karena yang menjadi ’susah’ tak hanya dirinya sendiri. Tapi juga pasangan tempur.
DI masyarakat kaya jamu macam Indonesia, berbagai produk kombinasi mampu menawarkan alternatif bagi para ‘lemah’ itu. Tren “back to nature” rupanya menjangkiti pikiran masyarakat negeri ini. Segalanya yang serba berbau alam, pasti laris manis karena selalu berkesan sehat dan higienis. Beda dengan suplemen artifisial yang dituduh sebagai ambassador kanker dan semacamnya.
Kembali ke soal “pertahanan kala bertempur” tadi, tentunya banyak juga beredar seabreg mitos yang beragam. Ada yang bilang pakai itu, minum anu, makan ini, dan sebagainya. Di benak sampeyan pasti juga beredar berbagai versi yang kadang bisa langsung dicerna akal sehat. Atau jika terlalu rumit, terpaksa harus dicerna pakai akal mesum.
Adalah sebuah komentator budiman di blog ini mengutarakan sebuah mitos yang membuat redaksi berniat membuatkan gambarnya. Demikian komentar tersebut (nama terpaksa disamarkan) :
Jemari Tangguh on 17 April 2008 21:46:19 said:
lha ini khan seperti mitos, minum krating daeng sama timun bisa membuat kuat selama 2 jam…caranya. tangan kiri menenggak krating daeng, Tangan kanan memasukan timun. Dijamin bisa 2 jam..
Redaksi Klithikan, dengan rendah diri, pun melemparkan produk kawin silang antara mentimun dan kratingdaeng ini sebagai berikut :

Fantastis! Sebuah kombinasi yang sering tak terbayangkan oleh kita sebelumnya. Kadang kalau dilihat sekilas, kok ya timun gitu. Bukannya melimpahkan ‘tugas’ tersbut kepada potongan besi atau campuran kawat tembaga atau serpihan beton yang jauh lebih terkesan perkasa? Mungkin di sinilah letak seninya. Sebuah kombinasi unik yang tak pernah terpikirkan, membuat produk ini spesial.
Khasiatnya? jelas. Ini ‘kan kita lagi bicara soal daya tahan. Dibuktikan atau belum tak ada yang berani menjamin, mau saja tidak. Berjudul Kirantipepeng agar tak dituntut oleh produsen aslinya, meskipun ini adalah produk oplosan. Lagi pula ini demi penghormatan untuk juragan kiranti yang gemar produk masa silam itu. Konon kabarnya dia sedikit mengalami masalah soal ‘daya tahan’ yang satu ini. Kasihan ya?
Tidak puas karena cuma mentimun? tenang saja, kami masih menyiapkan varian produk lainnya dengan rasa terong, wortel maupun pisang. Tunggu saja.
Sebagai bloger amatiran yang jarang posting dan update berkala, maka kita harus senantiasa belajar. Sepanjang hidup kita tak boleh merasa cukup begitu saja dengan ilmu yang dipunyai. Belajar hal-hal baru yang unik akan sangat menyehatkan jiwa.
Bagi kita yang berada di alam blogosphre, pastinya tak asing dengan istilah : Trackback.
Jika menjelaskan hal tersebut kepada Ekowans misalnya. Pasti cukup dengan gerakan tubuh saja, dia akan paham. Apalagi kepada Funkshit, cukup melalui metode radiasi, ilmu soal trackback ini akan cepat sampai tujuan. Namuuuun, jika anda harus menyampaikan kepada orang awam yang belum mengenal apa itu blog. Bahkan sampai akhir acara, mereka tak ada yang ingat dengan sebuah komunitas bernama CAHANDONG.
Pak Herman malam ini pun mengalaminya. Beliau didaulat untuk mengisi sebuah acara workshop di acara pameran buku di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Temanya soal blogging dan meraup dollar dari internet. Pak Herman (tentu saja) bicara soal blog dan segala pernak-perniknya. Semua pertanyaan berhasil dilahap Herman dengan tangkas, karena untungnya tidak ada yang bertanya : duluan mana blog sama telur?
Sampailah pada saat seorang peserta menginginkan penjelasan perihal TRACKBACK. Dengan sebuah ilustrasi gambar berikut, Herman mengulasnya dengan ciamik.
Narasi penjelasnya adalah sebagai berikut ini :
Dengan penjelasan demikian ini, peserta pun akan paham bagaimana mekanisme interaksi antar bloger di dunia maya.
Bagi anda yang pengen belajar soal apa itu trackback, bisa mengunduh materinya di sini. Jangan lupa courtesy-nya kepada Bapak Herman.
Sewaktu member eksklusif dari CA Gold Membership mengadakan kopdar di sebuah Mall, sempat memperhatikan beberapa poster film terutama hasil dari film dalam negeri. Pengerjaan poster ternyata banyak yang asal-asalan, kejar tayang mungkin. Apakah desainer di negeri ini sudah punah dan langka? sepertinya tidak.
Banyak yang serius mendesain sepenuh hati, contohnya poster ini. Meskipun ini bukan poster resmi dari sebuah film, tapi dikerjakan dengan tentu saja : sepenuh hati.
Sebuah film yang dibintangi oleh Jeung Tikabanget dan beberapa anggota jelata lainnya. Divisi CAEM rupanya bergeliat sangat cepat, lincah dan trengginas. Belum genap seminggu diresmikan di mobil CRV Tikabanget, sudah mempunyai satu produksi film. Film mengangkat realitas sosial yang cukup sering terjadi di masyarakat. Benar-benar sebuah film yang peduli untuk mengomunikasikan pesan-pesan moral kepada penontonnya.
Sayangnya dalam poster yang bagus itu tak terkandung cukup informasi. Sebagai apakah Bapak Herman Saksono di dalam film tersebut? Kalau Jeung Tikabanget? Jelas. Dia yang terlihat tersedu-sedu pastilah korban yang menderita kehamilan. Lalu, nama-nama yang lain itu loh, tak dijelaskan secara mendetail dan transparan. Redaksi mencurigai ini adalah upaya mendompleng ketenaran nama Herman Saksono untuk mendongkrak popularitas film? Siapa tahu.
Daripada penasaran menunggu alur cerita film yang tak pasti kapan di-launching ini, mari kita membuat skenario sendiri. Kalau menurut analisa redaksi, skenario filmnya bisa jadi seperti ini : Antobilang sebagai bapak dari Tikabanget. Lalu Antobilang menuduh Herman Saksono sebagai tersangka yang menghamili Tikabanget, dan lahirlah Gunawan adalah anak hasil dari hubungan terlarang itu.
Atau pembaca punya persepsi alur skenario lainnya? Silahkan tulis di kolom komentar…
Jelang pemilu 2009, semua partai berebut simpati. Ada yang cerdas mengambil simpati dengan aksi sosial dan kemanusiaan. Ada pula yang goblok gak ketulungan bikin ontran-ontran rebutan posisi sampai membentuk kubu A versus kubu B. Di sini, untuk menampung rakyat yang kurang senyum akibat mahalnya harga bahan pokok yang kian mencekik, didirikan Partai Kapucino Senyum. Bisa disingkat PKS.
Mengusung jargon, “Senyum untuk Semua”, diharapkan rakyat akan tertipu oleh senyum manis partai ini sehingga khilaf memilihnya pada saat 2009 nanti.
Lambang senyum ini bisa dipakai untuk melumpuhkan konsentrasi lawan politik. Pertahanan lawan politik akan kocar-kacir segera setelah melihat smiley ini. Begitupun koruptor, bisa langsung mati berdiri melihat keganasan smiley ini.
Percaya deh sama saya… ![]()
Berjumpa kawan sekampung adalah hal yang dirindukan setiap perantau. Konon katanya dapat mengobati rindu kampung halaman.
Begitupun dengan salah satu personil band Radja, Ian Kassela. Siapa tak kenal dia? Dengan mengusung aliran musik Black Death Metal Romantic melalui grup Rajap, dia kembali menggebrak dunia permusikan tanah air berkolaborasi dengan kawan sekampungnya Ekowans Kassela, selanjutnya disebut Wan Kassela.

Permainan bass betot ala Wan Kassela akan dipadu dengan lirik-lirik dahsyat dan mematikan dari Ian Kassela. Beberapa lagu baru yang diciptakan bersama (duh romantisnya...) dan juga beberapa lagu hasil remake dari berbagai lagu campur sari.
Ketika ditanya, apakah Ian belum puas dengan penjualan album band Radja yang sudah terkenal seantero pelosok desa itu sehingga membentuk band baru, Ian menjawab dengan kalem sambil membenarkan letak kacamatanya : “Ini bukan persoalan uang semata, ini adalah salah satu bentuk saya bernostalgia dengan kawan semasa kecil dahulu“.
Penggunaan nama Rajap ini bukan bermaksud mendompleng ketenaran band Radja, tapi nama ini mengandung arti filosofis yang sangat mendalam. Kata Ian ” Ini artinya persahabatan kami tak akan lekang dimakan usia, tak akan pudar dimakan zaman, juga tak akan hancur dimakan Rajap (baca : rayap)…”
Sempat pula kami iseng menanyakan kenapa tidak menggunakan nama Kassela & Brothers, Kassela & Friends, Kassela Bersaudara, atau Kassela Plus, mas Ian selaku juru bicara menjawab : “gak usah cerewet, mas“.
Belum ada pernyataan resmi apakah album ini akan diluncurkan di daerah asal mereka atau hanya eksklusif di Jogja saja. Mengingat sekarang adalah jamannya eksklusif-eksklusif-an. Pastikan anda temukan album eksklusif ini di toko kaset terdekat!
Lho sedari tadi kok Wan Kassela cuma diam saja? Kami tidak tahu, mungkin dia shock dengan semua yang sedang terjadi ini.
Tidak bermaksud mempercepat kepergian Sang Sultan, tapi ini cuma persiapan saja. Bukannya segala sesuatu harus selalu dipersiapkan dengan baik to?

Jancukarta, kota kejam sekejam ibu tiri itu memang tak kejam soal gaji. Dengan bekal jagoan coding dan tentu saja pengalaman di dunia model, Sultan pun hendak datang menyerbu Jancukarta. Tugasnya, apalagi kalau bukan mengambil gaji 5 juta per minggu.
Mengambil gaji?
Iya, cuma diambil begitu saja. Mudah ‘kan?
Perjalanan ke barat kali ini memang sungguh berat. Seperti halnya ketika Sun Go Kong merasa berat meninggalkan kera-kera di gua Shui Lian, begitupun pastinya Sultan akan merasa berat meninggalkan para Jelata yang lucu-lucu ini di Jogjakarta. Akan tetapi demi 5 juta per minggu… eh demi kebaikan umat manusia, makanya kami pun berusaha membesarkan hati masing-masing untuk menerima kenyataan ini. Kami tahu, “sejauh apapun burung Sultan terbang, maka tetap akan kembali ke sarangnya“.
Kepemimpinan Sultan pun tetap tak tergantikan, Jelata tidak menginginkan adanya pemilihan. Jelata menginginkan penetapan Sultan sebagai Sultan seumur hidup. Menyoal kepemimpinan kasultanan selama perjalanan ke barat, ‘kan masih bisa di kontrol lewat video conference. Layar besar di Kafe Djambur pun rasanya sia-sia saja kalau hanya untuk menayangkan acara gulat di Star Sports. Jadi, kita tetap bisa melihat keteduhan wajah Sultan melalui layar projector.
Hey Sultan ! jelata-jelatamu ini akan setia menungguimu. Jika kau tak bisa datang, kirimkanlah satu saja (dari empat) gaji 5 juta per minggu-mu. Hahahaha.
Ide soal kata “Tong Zam Chong” : Kang Wedhouz dalam sebuah reply E-mail di Milis.
Juminten

JUmat MIdNite TENguk-tenguk
kumpul tiap JUMAT MALAM jam 21.00 till drop
di Seputaran Titik Nol Kilometer Jogja