Ambisi kekuasaan sesungguhnya adalah ilusi. Nafsu saling menguasai antar manusia adalah belenggu pertama yang akan menghancurkan manusia itu sendiri. Niat menjalin persahabatan sesungguhnya adalah kunci yang akan menolong manusia. Kejadian pembantaian akibat ambisi kekuasaan Mahapatih Gadjah Mada di Lapangan Bubat bumi Pasundan 652 tahun lalu sebaiknya tidak terjadi sore ini di Lapangan Alun-alun Kidul Kerajaan Jelatakarta!
Kerajaan Jelatakarta dibangun di atas tanah perdikan yang dikelola oleh keluarga ningrat yang datang mengungsi dari negeri yang hancur karena perang. Penduduk setempat menyukai kepemimpinan yang ditunjukkan oleh keluarga ningrat tersebut. Sehingga perlahan berkat hasil bumi dan kekayaan alam yang melimpah, Kerajaan Jelata itu pun tumbuh menjadi intan baru yang bersinar-sinar di barat bumi Jawadipa. Negeri yang selalu berdetak, siang-malam oleh aktivitas ekonomi maupun sosial. Atas kehendak dewata, kerajaan Jelata selalu dianugerahi puteri-puteri yang cantik walaupun aneh. Sampai saat ini Putri Dyah Wulandari adalah referensi cantik untuk seluruh kalangan putri di Keraton Kerajaan Jelatakarta.

Alkisah, sebuah negeri yang baru saja berdiri terlihat jauh lebih megah. Dari ujung timur nusa Jawadipa yang makmur dan maju, orang-orang menyebutnya Kerajaan Tugu Partiot. Angkatan perang yang tangguh dan militan dipimpin oleh sosok raja rupawan, Hanang Wuruk memang bukan tandingan Kerajaan Jelatakarta . Kesatria berkuda besi yang sibuk memainkan panji-panji negeri siap melibas lawan-lawan yang menghadang.
Bersama seluruh pasukannya, Raja Hanang Wuruk hendak menjalin kekuatan yang lebih besar untuk kejayaan Kerajaan Tugu Partiot dengan menyatukan seluruh negeri di sepanjang pantai utara dan selatan nusantara. Sebelumnya Raja Hanang Wuruk dikenal sudah memiliki hubungan yang sangat baik dengan berbagai eksponen pemerintahan di negeri-negeri sekitar Kerajaan Tugu Partiot.
Bukan Raja Hanang Wuruk namanya kalau tidak membawa tawaran program mercusuar dalam perjalanan sucinya. Sebuah program pengentasan kemiskinan diharapkan mampu menjadi penarik negeri-negeri sepanjang bumi Jawadipa untuk bergabung di bawah panji-panji Raja Hanang Wuruk yang agung.
Perjamuan makan sore di lapangan Alun-alun Kidul Kerajaan Jelatakarta yang dipimpin oleh Raja Sir Pieter April XVII digunakan untuk menyambut pasukan Kerajaan Tugu Patriot. Di antara kecantikan dayang-dayang yang sudah memukau para punggawa kerajaan tamu, muncullah seorang putri khayalan bernama Dyah Wulandari yang cantik mewangi sepanjang hari. Dengan sebuah kibasan selendangnya, dada Raja Hanang Wuruk pun berdesir kencang. Muncul keinginan yang sangat kuat dari Raja Hanang Wuruk untuk meminang Dyah Wulandari sebagai selir ke 59.
Melihat kondisi itu, Raja Sir Pieter April XVII menghadapi dilema yang sangat pelik. Di satu sisi dia tidak ingin menghancurkan negeri yang dibangun oleh nenek moyangnya serta membiarkan rakyat menderita jika menolak keinginan Raja besar itu. Namun jika dibiarkan Raja Hanang Wuruk mempersunting putri tercantiknya itu menjadi selir, maka sebenarnya harga diri Kerajaan Jelatakarta sudah diletakkan di bawah telapak kaki. Dia tak bisa serta merta menerapkan prinsip “pejah gesang sampun kantenan, mboten amemanjang wirang“, dia harus memikirkan nasib rakyatnya. Akhirnya Raja Sri Pieter memberikan kekuasaan penuh kepada Dyah Wulandari untuk menentukan pilihannya. Memilih Raja Hanang Wuruk sebagai suami atau perang dengan Kerajaan Tugu Patriot!
Bagaimanakah keputusan Dyah Wulandari? Tonton dan saksikan (cuma) sore ini di Alun-alun Kidul. Cukup dengan tujuh ribu rupiah anda bisa menyaksikan cerita yang sangat menggugah ini!
Disclaimer : Kemiripan nama maupun kejadian adalah karena kesengajaan.
24 January 2009 16:46:34
GYAHAHAHAAAA!!!
24 January 2009 16:47:02
(ngakak)
24 January 2009 16:50:08
huasyuuuuuuuuuuuuuuuuuu. aku ngakak pol. :))
24 January 2009 16:52:40
Asline Dyah Wulandari iku mesum ra to?
24 January 2009 17:19:13
tp raja Hanang Wuruk suka yg rodo2 vulgar
24 January 2009 17:46:41
mwahahahahaaa… asik iki! (lol) (rofl) (lmao)
24 January 2009 18:10:37
Cuma 7ribu ya? Pengen nonton. Sayangnya hujan. Hehe
24 January 2009 18:42:05
Hanang Wuruk… gyahahaha
24 January 2009 19:13:12
MENGUSULKAN
Lakon tari Dyah Wulandari Bubat, sebagai tarian sakral dan wajib untuk setiap acara pelantikan dan jumenengan Sultan …
24 January 2009 19:50:04
Sejarah memang harus dilestarikan dalam bentuk seni budaya. Tarian ini melambangkan perlawanan dan perjuangan kesetaraan gender.
aduuhh, nggak sabar untuk melatih tari anak anak SD keputren…
24 January 2009 21:32:30
Aku datang terlalu cepat (angry). Panggungnya aja belum dipasang (idiot)
24 January 2009 23:32:07
apa-apaan ini, hahhhh ? HAAAHHH ??? (angry)
ada yg ngaku2 kembaranku pulak [-(
25 January 2009 00:00:02
Demi kelangsungan jelata kere yang hanya akan menjadi korban jika perang ini terjadi.. maka,, dengan hormat saya memohon sri bagindi Dyah Wulandari rela dan ikhlas dipinang Baginda Hanang.. Demi bangsa dan negara! haleluya!
25 January 2009 07:30:11
legenda luar biasa..
geli dewe..
25 January 2009 15:15:10
legenda mantabb….
btw Raja Sir Pieter April XVII ada affair dengan patih Funkshit lho…
ehehehehehe…
*kaboorr..
25 January 2009 15:23:51
seluruh keluarga kerajaan mendukung!
27 January 2009 10:06:12
sepertinya perlu diconth untuk kerajaan sebelah
27 January 2009 13:27:31
Kerajaan Silitmangi siap mengirim utusan untuk menyukseskan upacara pemberkatan!
27 January 2009 19:20:38
siap mengonthel untuk mengantarkan sri bagindi puter2 kerajaan untuk terakir kalinya sebelum dipinang dan diboyong oleh sri banginda.
28 January 2009 06:55:09
Utusan dari kerajaan banjar siap bergabung
28 January 2009 21:22:09
*segera booking pesawat jet buat ke jogja*
29 January 2009 17:06:17
saya pesan satu tiketnya !
.::he509x™::.
29 January 2009 21:45:46
*siap siap les buwat pementasan sendratari*
29 January 2009 21:57:07
jangkrik kie…
sayang banget ini bukan wayang purwa. padahal saya menanti adegan buto cakilnya, hahayyy…
20 June 2009 16:15:42
Gyahahaha.
Seru!!!!!!!!!!!
Salam kenal Cmua!! Chan juga Blogger asal Jogja Tapi Lom Sempet maen Kyumpul2 ma Cahandong.ORG nech…
Mampirlah ke Lapak Chan, Dan Ajak Chan
17 January 2010 17:32:17
Dyah Wulandari Bubat seharusnya jangan dilihat pada sisi ambisi kekuasaan. Pandangan itu dari sisi pengarang Bali banget. Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena kesalahan protokoler kenegaraan semata. Semua yang diterima di istana Majapahit harus tidak boleh membawa senjata dan dan dalam jumlah yang terbatas. Seperti utusan Cina misalnya. Mereka yang datang tidak diterima semua tetapi yang diterima yang tidak bersenjata yaitu para pendeta. Cheng Ho pun tidak diterima. Namun pihak Sunda menganggap protokoler tersebut sebagaimana penghinaan.
Bagaimana bila Patih Gajah Mada kemudian membolehkan semua masuk. Apa tidak akan terjadi peristiwa Kuda Troya?